Nyeri Leher Mengganggu Aktivitas Anda?
Apakah Anda sering merasakan nyeri atau kaku di leher setelah bekerja, berkendara, atau terlalu lama menunduk melihat layar ponsel? Beberapa orang juga merasakan sakit kepala, nyeri di bahu, atau rasa sakit yang menjalar hingga ke lengan. Jika keluhan ini mulai mengganggu tidur, pekerjaan, atau gerak tubuh sehari-hari, bisa jadi ini pertanda adanya masalah pada tulang belakang leher (cervical spine) yang perlu diperiksa dan ditangani dengan tepat.
Ditulis oleh:
Dr Yong Ren adalah dokter spesialis ortopedi yang berbasis di Singapura. Beliau adalah Direktur Klinik Orthopaedic and Pain Practice, dengan lokasi praktik di Gleneagles
Medical Centre dan Mount Elizabeth Novena Specialist Centre.
Memahami Nyeri Leher yang Berkepanjangan
Nyeri dan kaku pada leher biasanya muncul secara bertahap, terutama pada mereka yang menghabiskan banyak waktu bekerja di depan komputer, berkendara, atau sering menunduk melihat ponsel. Pada banyak kasus, keluhan ini berkaitan dengan ketegangan otot, penuaan atau gangguan pada bantalan dan sendi tulang belakang leher.
Seiring berjalannya waktu, nyeri leher yang berkepanjangan dapat mulai mengganggu tidur, konsentrasi, produktivitas kerja, hingga gerak tubuh sehari-hari. Sebagian orang juga mengalami sakit kepala, kesemutan, atau kelemahan yang menjalar ke bahu atau lengan akibat saraf di sekitar leher yang teriritasi.
Pemeriksaan ortopedi sejak dini membantu menemukan penyebab utama keluhan, serta menentukan apakah perawatan konservatif, rehabilitasi, atau injeksi diperlukan, tergantung pada tingkat keparahan kondisi.
Gejala dan Penyebab Nyeri Leher
Banyak orang awalnya mengira nyeri leher hanya disebabkan oleh “salah bantal” atau kelelahan setelah beraktivitas seharian. Meski rasa tidak nyaman ringan memang bisa terjadi sesekali, nyeri dan kaku leher yang berkepanjangan sering kali berkaitan dengan ketegangan otot, postur tubuh yang kurang baik, penuaan, atau gangguan pada bantalan dan sendi tulang belakang leher.
Kebiasaan bekerja lama di depan komputer, berkendara, atau menunduk melihat ponsel dapat memberikan tekanan berlebih pada otot leher dan struktur tulang belakang secara perlahan namun terus-menerus. Saat tulang belakang leher mulai teriritasi atau tertekan, keluhan ini dapat mulai memengaruhi gerak tubuh dan aktivitas sehari-hari.
Sebagian orang merasakan nyeri seperti kaku yang terus-menerus, sementara yang lain mengalami nyeri yang lebih tajam saat menoleh atau menunduk dalam waktu lama.
Gejala yang umum dirasakan antara lain:
- Sulit menoleh atau memiringkan leher
Ketegangan atau kejang otot di sekitar leher dan bahu - Nyeri yang memburuk setelah duduk lama atau menatap layar
- Sakit kepala yang berasal dari area leher
- Nyeri yang menjalar ke bahu, lengan, atau punggung atas
- Kesemutan, kebas, atau kelemahan pada lengan (pada kasus yang lebih berat)
Pada sebagian pasien, gangguan bantalan tulang leher (cervical disc degeneration) atau tekanan pada saraf dapat memburuk secara bertahap, menyebabkan nyeri yang semakin terasa, gerak tubuh yang terbatas, atau gejala pada lengan yang mulai mengganggu pekerjaan, tidur, dan aktivitas sehari-hari.
Kapan Perlu Melakukan Pemeriksaan Ortopedi?
Pemeriksaan ortopedi sangat penting dilakukan jika nyeri leher disertai dengan:
- Nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan
- Kesemutan, kebas, atau kelemahan pada tangan atau jari
- Kesulitan menoleh dengan nyaman
- Sakit kepala yang sering berasal dari area leher
- Gejala yang tetap ada meski sudah diberikan obat atau fisioterapi
Gejala-gejala ini dapat menandakan adanya iritasi atau tekanan pada bantalan, sendi, atau saraf tulang belakang leher. Pemeriksaan yang tepat, disertai dengan tes pencitraan (imaging) bila diperlukan, membantu menentukan penyebab utama keluhan serta apakah perawatan konservatif, rehabilitasi, injeksi, atau dalam kasus tertentu, operasi, merupakan langkah yang tepat.
Pilihan Perawatan Injeksi untuk Nyeri Leher
Perawatan yang paling tepat untuk nyeri leher tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan kondisi yang dialami. Banyak pasien mengalami perbaikan dengan obat-obatan, fisioterapi, perbaikan postur tubuh, serta penyesuaian aktivitas. Jika keluhan masih berlanjut meski sudah menjalani perawatan konservatif, injeksi dengan panduan pencitraan (image-guided injection) terkadang dapat dipertimbangkan sebagai langkah selanjutnya yang minim invasif, sebelum perawatan yang lebih kompleks didiskusikan.
Prosedur ini bertujuan untuk membantu mengurangi peradangan atau meredakan iritasi saraf tanpa perlu operasi. Tergantung pada kondisi yang dialami, pilihan perawatan dapat meliputi:
- Injeksi dengan panduan pencitraan untuk mengurangi peradangan di sekitar saraf atau sendi yang teriritasi
- Prosedur khusus untuk meredakan nyeri leher kronis akibat peradangan pada sendi tulang belakang leher
Berbeda dengan operasi pada tulang belakang bagian bawah (lumbar spine) yang sudah bisa menggunakan minim invasif, operasi pada tulang belakang leher (cervical spine) umumnya masih dilakukan dengan teknik operasi terbuka. Jika gangguan pada bantalan tulang leher atau penekanan saraf tidak membaik dengan terapi konservatif maupun suntikan, dokter dapat merekomendasikan operasi.
Pemeriksaan ortopedi yang menyeluruh penting dilakukan untuk menentukan pendekatan perawatan yang paling sesuai, karena tidak semua pasien dengan nyeri leher memerlukan tindakan prosedural atau operasi.
Bagaimana Proses Pemulihan Berlangsung?
Pemulihan setelah menjalani injeksi dengan panduan pencitraan umumnya berlangsung cukup singkat dan mudah. Sebagian besar pasien hanya perlu diobservasi sebentar setelah prosedur dan dapat langsung pulang di hari yang sama, tanpa perlu perawatan luka atau waktu pemulihan panjang seperti pada operasi.
Sedikit nyeri di area suntik atau peningkatan gejala sementara dapat terjadi dalam satu hingga dua hari pertama, dan biasanya akan mereda dengan sendirinya. Pasien umumnya disarankan untuk beristirahat pada hari itu dan secara bertahap kembali beraktivitas normal.
Proses pemulihan dapat meliputi:
- Kembali beraktivitas ringan pada hari yang sama atau keesokan harinya
- Melakukan gerakan leher secara perlahan sesuai anjuran dokter
- Menghindari aktivitas berat untuk sementara waktu setelah prosedur
- Fisioterapi untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas
- Konsultasi lanjutan untuk memantau perkembangan hasil perawatan
Sebagian pasien merasakan perbaikan hanya setelah satu kali injeksi, sementara yang lain mungkin memerlukan beberapa kali perawatan disertai fisioterapi dan perbaikan postur tubuh. Dengan perawatan lanjutan yang tepat, banyak pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, sekaligus menjaga kesehatan dan fungsi tulang belakang leher dalam jangka panjang.
Tentang Dr. Yong Ren
Dr Yong Ren adalah dokter bedah ortopedi tulang belakang yang berpengalaman menangani berbagai kondisi tulang belakang leher, termasuk gangguan pada bantalan, sendi, tulang, dan saraf leher. Praktik klinisnya mencakup penanganan nyeri leher berkepanjangan, gangguan bantalan tulang leher, tekanan saraf, degenerasi tulang belakang, serta kondisi lain yang dapat memengaruhi gerak tubuh, fungsi, dan aktivitas sehari-hari pasien.
Beliau menempuh pendidikan spesialis ortopedi di Singapura, dan melanjutkan pelatihan subspesialisasi di Swiss. Pengalamannya mencakup penanganan kondisi tulang belakang, baik secara non-bedah maupun bedah, dengan pendekatan perawatan yang disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi tulang belakang masing-masing pasien.
Dr Yong Ren sebelumnya menjabat sebagai Kepala Ortopedi Trauma di Khoo Teck Puat Hospital, Singapura, dan juga aktif dalam dunia pendidikan kedokteran sebagai Assistant Professor di bidang bedah ortopedi. Bagi pasien dengan nyeri leher berkepanjangan yang tidak membaik dengan perawatan konservatif, injeksi dengan panduan pencitraan sering kali menjadi langkah yang dipertimbangkan sebelum operasi didiskusikan. Pasien asal Indonesia yang berobat ke Singapura akan didampingi oleh tim berbahasa Indonesia, mulai dari pengaturan janji temu, persiapan konsultasi, hingga pendampingan selama proses perawatan berlangsung.
Konsultasi dengan Dr Yong Ren di Singapura untuk Nyeri Leher
Banyak pasien asal Indonesia yang khusus berobat ke Singapura untuk berkonsultasi dengan Dr Yong Ren mengenai nyeri leher berkepanjangan dan berbagai kondisi tulang belakang leher lainnya. Singapura dapat ditempuh dengan penerbangan singkat dari sebagian besar kota besar di Indonesia, dan pemegang paspor Indonesia tidak memerlukan visa untuk kunjungan medis singkat.
Lama tinggal di Singapura tergantung pada jenis perawatan yang dibutuhkan. Konsultasi dan pemeriksaan awal, termasuk peninjauan hasil pencitraan, biasanya dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan selama satu hingga dua hari. Pasien yang menjalani prosedur injeksi mungkin perlu tinggal sedikit lebih lama untuk observasi dan kunjungan lanjutan sebelum kembali ke Indonesia.
Untuk membantu pasien mempersiapkan perjalanan, tersedia dukungan berupa:
- Pendampingan berbahasa Indonesia untuk pengaturan janji temu dan konsultasi
- Koordinasi melalui WhatsApp untuk penjadwalan dan pertanyaan sebelum kunjungan
- Peninjauan awal hasil MRI, rontgen, atau rekam medis sebelum keberangkatan, jika tersedia
- Panduan mengenai apa yang perlu dipersiapkan selama kunjungan, termasuk perkiraan jumlah kunjungan yang diperlukan
Dukungan perencanaan ini bertujuan membantu pasien dari Indonesia merasa lebih siap sebelum konsultasi, terutama saat harus mengatur cuti kerja atau perjalanan bersama keluarga.

